Kadang ibu masih menyesalkan kenapa bapak keluar menuruti hati, tinggalkan kemapanan. Itu bukan karena bapak idealis. Bahwa bapak salah perhitungan mungkin benar karena tak mengira ada krismon dunia sehingga beberapa rintisan bapak terhambat.
Kenapa bapak keluar? Bukan karena ingin jadi pahlawan yang dielu-elukan. Bahkan ketika bapak memutuskan keluar dua tahun lalu itu, anak buah bapak tidak tahu. Mereka tidak tahu bahwa bapak akan bersama mereka.
Baiklah bapak ulangi ceritanya siapa tahu kalian waktu itu kurang paham, terutama adik karena waktu itu masih terlalu kecil. Kondisi bisnis kantor bapak waktu itu menurun, sehingga akhirnya diputuskan anak-anak buah bapak di-PHK. Bapak? Oh tidak, malah mendapatkan promosi, it diberitahukan secara konfidensial jauh hari sebelum PHK.
Anak-anak buah itu bapaklahlah yang merekrut, ikut menyeleksi, melatih dan mengembangkan mereka. Mereka tidak bersalah karena manajemen pun mengakuinya, bahkan cara kerja baru yang bapak terapkan pun diterapkan ke kantor lain di grup yang sama. Bisa kalian bayangkan bagaimana perasaan bapak jika mereka dipecat semua tetapi bapak malah naik jabatan.
Maka bapak ambil keputusan, bilang ke manajemen, akan membantu closing kantor serapi dan selancar mungkin, termasuk mengurusi inventaris, serta… bapak katakan, “You have to fire me too. I’m the captain of your vessel. Saya akan antarkan mereka ke dermaga terdekat, setelah itu baru saya yang meloncat ke darat. ” Anak-anak buah bapak akhirnya tahu, mereka menangis. Bapak membantu mereka memperjuangkan hak, menjadi penengah dalam konflik, dan berhasil. Manajemen berterima kasih karena bapak menjadi negsiator bagi kedua belah pihak. Bapak keluar paling akhir pas batas waktu. Bapak yang terakhir mengambil pesangon yang jumlahnya tidak pernah bapak tawar.
Hari terakhir waktu bapak pamitan, teman dan bos bapak hanya menunduk, ada yang menangis. Seberkuasa-kuasanya mereka toh mereka bukan pemilik perusahaan.
Tetapi dengan keluar dari pekerjaan, bapak merasa lebih ringan bekerja. Sekarang juga berat, lebih berat dari yang dulu, tapi tanpa ketegangan dalam diri, karena bapak melakukannya dengan hati. Sampai kemudian tibalah kenyataan, bahwa pesangon habis, biaya hidup terus menanjak, kebutuhan kalian juga bertambah seiring usia dan jenjang pendidikan.
Percayalah, bapak tidak menyerah. Bahkan bapak lebih mensyukuri kehidupan. Dulu bapak sendirian belanja buah dan kue di supermaket mahal (bapak punya kartu keanggotaan) seolah tanpa beban. Kulkas kita tak pernah kosong. Di dapur selalu ada makanan.
Kapan itu bapak hanya belikan kemasan kue Rp 8.000-an untuk kalian rasanya bahagia banget. Bapak merasa masih membelikan kalian, meskipun belum tentu seminggu sekali.
Bapak kadang malu terhadap Tuhan karena bapak tak pernah meminta tetapi tetap saja diberi. Sampai bapak malu berdoa pinta kepada Tuhan. Bapak hanya berani mengucap syukur.