Untuk mbak, kamu adalah sulung dari bersaudara. Untuk adik, kamu adalah si bungsu dari dua bersaudara. Bapak menyayangi kalian semua. Tidak membeda-bedakan.
Namun bapak punya rasa bersalah kepada adik. Dia tidak mengalami limpahan perhatian dari bapak seperti mbak. Ketika dia lahir dan tumbuh bapak semakin sibuk di tempat kerja yang dulu. Adik tidak sesering mbak diajak jalan-jalan di sekitar rumah. Adik tidak sering mengalami rasanya kena angin ketika membonceng Vespa.
Adik belum pernah naik pesawat. Adik belum mengalami dibelikan PlayStation dan micro hi-fi seperti mbak. Adik belum mendapatkan sebanyak mbak. Bahkan diantar-jemput sekolah pun tak sesering mbak. Adik belum mengalami bayak hal.
Ketika adik hanya melungsur seragam pramuka mbak, dalam hati bapak menangis. Menangis. Tetapi bapak hanya menunggui adik mencoba seragam dan tersenyum.
Bapak tidak membeda-bedakan. Tapi bapak akui kadang bapak ingin menebus rasa bersalah kepada adik dengan memberikan apa yang dulu mbak bisa dapatkan, bahkan waktu mbak belum bisa membaca bapak pun sudah membelikan buku dan komik. Bapak ingin menebus, itu pun sulit. Belum mampu.
Bapak mencintai kalian berdua.
Selamat rehat anak-anakku. Saat ini kalian sudah terlelap dan besok bangun pagi.